CHILD of GOD

CHILD of GOD

Suatu sore yang cerah, seorang anak kecil sedang duduk dibangku lapangan sekolahnya. Langit yang berwarna biru muda dan awan putih memikat dirinya untuk melihat ke langit. Dari kejauhan terlihat ada pesawat udara yang melintas. Pesawat itu terlihat sangat kecil dimatanya, namun ia dalam hatinya ingin sekali bisa melihat pesawat dari dekat dan terbang dengan pesawat itu… Orang tuanya mengatakan ia harus belajar giat supaya bisa naik pesawat. Ia mau mendengar perkataan orang tuanya dan semangat belajar. Keinginan si anak kecil ini akhirnya terwujud, ia mendapatkan hadiah berlibur dengan menumpang pesawat. Saat akan naik ke pesawat tentu dia dapat melihat pesawat itu sangat dekat dan melihat betapa besar pesawat itu rupanya.

Cerita si anak kecil ini memberi ketika gambaran bahwa sesuatu yang jauh itu akan terlihat kecil, namun jika dekat barulah kita tahu betapa besarnya hal tersebut. Demikian pula dengan Tuhan kita, jika kita jauh dari-Nya kita tidak bisa tahu betapa besar dan esa Tuhan itu. Namun, saat kita mendekatkan diri pada-Nya, kita sungguh bisa merasakan dan melihat betapa besar kuasa dan kebaikan-Nya dalam hidup kita.

Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah kita sudah dekat pada-Nya? Jika kita merasa masih belum sedekat itu dengan Tuhan, bagaimana cara mendekatkan diri pada-Nya?

Tuhan Yesus pernah bertanya dalam perjalanan-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Ada berbagai jawaban “Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan Elia dan ada pula yang mengatakan Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Mendengar jawaban yang bermacam-macam itu, Tuhan Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” sebab Dia ingin tahu bagaimana murid-murid mengenal diri-Nya. Jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16:13-17). Setelah mendengar jawaban itu, kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga.

Untuk bisa mengenal pribadi seseorang, kita harus mendekatkan diri padanya. Kita harus mengetahui sifatnya, kebiasaannya, pekerjaannya, keluarganya, dan lainnya. Hal itu juga sama jika kita ingin dekat dengan Tuhan. Kita harus bisa mengenal-Nya, mengetahui sifat-Nya, keinginan-Nya, dan darimana kita bisa tahu hal-hal tersebut? Tentu dari kebenaran firman-firman-Nya.

Seperti anak kecil yang mau mendengar dan belajar, kita pun memerlukan kerendahan hati untuk mau belajar memahami kehendak Allah itu. Kita harus memohon Roh Kudus-Nya yang menuntun dan mengajarkan kita dalam memahami firman-Nya sehingga bukan dengan pemikiran kita pribadi, kita menafsirkan kehendak Allah itu. Jika firman Tuhan itu terus kita taburkan dan tumbuhkan dalam diri kita, tentu kita bisa semakin mengenal dan dekat dengan-Nya. Semakin kita bisa mengetahui pula betapa besar dan luar biasanya Tuhan kita itu. Seperti Santo Yohanes yang rendah hati dalam Yoh 3:30 “Ia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil”.

Jadi, yuk teman-teman marilah kita mau belajar untuk menjadi anak-anak Tuhan yang bersedia merendahkan hati sehingga kita bisa dekat dengan Tuhan Allah dan merasakan betapa besar kasih dan kuasa-Nya dalam hidup ini dan mendapat berkat kebahagiaan dari surga.

Tuhan Yesus memberkati