Our Bible

Our Bible

Shalom teman-teman semua, kali ini kita akan membahas mengenai kitab suci. Jika kita sepintas mendengar kata kitab suci, apa yang ada di benak teman-teman?
“Wah, kitab suci gue bro, bener-bener suci bro, saking ‘sucinya’ gak pernah disentuh sama sekali!”
Apakah seperti itu?
Mudah-mudahan gak kayak gitu ya temen-temen. Kita umat gereja Katolik (khususnya bagi anak muda) sudah wajib hukumnya untuk membaca kitab suci yaitu Alkitab. Kalau kata ketua kombas saya, Alkitab itu adalah ‘surat cinta’ yang Tuhan beri bagi kita.
Gimana sih rasanya kalau temen-temen dapet ‘surat cinta’? seneng kan? Semangat gak sih bacanya? Apalagi yang kasih adalah pencipta kita sendiri lho!
Selain ‘surat cinta’, sebenarnya Alkitab (yang kalo dibaca) juga bisa sebagai makanan Rohani. Tubuh kita ini terdiri dari daging dan roh. Kalau urusan makanan untuk daging bisa temen-temen tebak kok. Bisa nasi, kwetiau, mie, nasi campur, sate, dll. sedangkan untuk urusan makanan rohani kita apa ya? Apakah berdoa saja sudah cukup? Apakah berbuat baik sudah cukup? Apakah melakukan pelayanan dimana-mana sudah cukup?  Apakah puasa sudah cukup? Semua itu tidak akan lengkap tanpa adanya Firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab. (Yah ibaratnya mungkin 4 sehat 5 sempurna lah ya). Tanpa adanya Firman Tuhan, Roh di dalam tubuh kita akan ‘kelaparan’ dan semakin ‘kelaparan’, Roh ini akan sulit membantu kita untuk membangun relasi kepada Bapa di Surga.
Berpikir mengenai Alkitab, teman-teman kita yang mempunyai kepercayaan Kristen Protestan pun juga membaca Alkitab juga lho. Trus, apa ya perbedaan antara Alkitab Kristen Katolik dengan Alkitab Kristen Protestan? Yuk kita bahas!

Apa yang membedakan antar dua kitab suci ini?
Kitab suci Katolik dan kitab suci Kristen Protestan memang ada perbedaan yang khas. Perbedaannya adalah pada jumlah kitabnya. Dalam Katolik ada 46 kitab Perjanjian Lama, sedangkan dalam Kristen Protestan hanya 39 kitab Perjanjian Lama. Sedangkan kitab Perjanjian Baru jumlahnya sama yakni 27 kitab. Ada 7 kitab yang diakui oleh Gereja Katolik sebagai kitab suci, sedangkan Kristen Protestan tidak mengakui 7 kitab tersebut sebagai kitab suci. Tujuh kitab itu sering disebut “Deuterokanonika”. Deuterokanonika berasal dari bahasa Yunani yang artinya “termasuk kanon kedua”, daftar yang kedua. Untuk kitab Kejadian sampai Maleakhi disebut Protokanonika (kanon yang pertama) adalah sama-sama diakui oleh Katolik dan Kristen Protestan. Mengenai isi dan terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia juga sama tidak ada bedanya, demikian juga dengan Perjanjian Baru. Untuk membedakan dari segi sampul/kulit luarnya, Kitab Suci Katolik di sampulnya ditambahi tulisan Deuterokanonika, sering ditulis lengkap “Alkitab Deuterokanonika”, maksudnya Alkitab yang di dalamnya ada deuterokanonika.

Apa saja kitab-kitab Deuterokanonika di dalam kitab suci Katolik?

Yang termasuk deuterokanonika adalah:
1.    Kitab Yudit
Kitab Yudit mempunyai setting yang tragis yang menarik bagi para patriot Yahudi dan memperingatkan kepada para pembacanya agar menaati Hukum agama Yahudi. Narasi Kitab Yudit dimulai dari seorang janda Manasye yang saleh, yang kecewa dengan saudara-saudara sebangsanya karena tidak mau melawan para penjajah asing mereka. Namanya adalah Yudit, yang dalam bahasa Ibrani berarti “Perempuan Yahudi”. Ia berhasil menyelamatkan Israel dari penghancuran total yang dilakukan oleh tentara Asyur. Dalam kitab ini berisi macam-macam sindiran terhadap era Asyur, Babel, dan Persia.
2.    Kitab Tobit
Kitab ini mengisahkan cerita tentang seorang Yahudi yang saleh dari suku Naftali yang bernama Tobit (atau Tobias) yang hidup di Niniwe setelah pembuangan suku Israel utara ke Asyur pada tahun 721 SM di bawah raja Salmaneser V (Dua pasal pertama dan setengah pasal berikutnya ditulis dengan kata ganti orang pertama.) Ia khususnya diakui karena berusaha keras dalam menguburkan orang-orang Yahudi yang dibunuh oleh Sanherib. Olah karena perbuatannya itu, raja menyita semua hartanya dan mengirim dia ke pembuangan. Setelah kematian Sankherib, ia diizinkan kembali ke Niniwe, tetapi ia tetap menguburkan seorang mati karena terbunuh di jalan. Malam itu, ia tidur di tempat terbuka dan menjadi buta oleh karena kotoran burung yang jatuh mengenai kedua matanya. Hal ini mengganggu hubungan perkawinannya, dan karena itu akhirnya ia memohon agar nyawanya dicabut.
3.    Kitab Makabe I
Isi dari kitab ini menerangkan bahwa Si penulis menekankan kesetiaan kepada Taurat sebagai ungkapan kasih umat Israel kepada Allah. Umat menghadapi perjuangan bukan melawan bangsa non-Yahudi, melainkan mereka yang bermaksud menghancurkan hukum Allah, baik Yahudi maupun bukan. Hukuman Allah yang paling keras bukan ditujukan kepada para penguasa Seleukus, melainkan kepada bangsa-Nya sendiri yang meninggalkan hukum-hukum Allah, lawan-lawan Yudas dan saudara-saudaranya, yang merupakan model orang yang percaya dan setia kepada Allah.
4.    Kitab Makabe II
Pada umumnya, kronologi buku ini cocok dengan kronologi 1 Makabe, dan buku ini mempunyai nilai histories karena melengkapi 1 Makabe, khususnya dalam memberikan sejumlah dokumen historis yang tampaknya otentik. Si pengarang tampaknya secara khusus tertarik untuk memberikan suatu penafsiran teologis mengenai kejadian-kejadian itu; dalam bukunya ini campur tangan Allah mengarahkan perjalanan berbagai peristiwa, menghukum orang jahat, dan memulihkan Bait Allah kepada umat-Nya. Mungkin saja bahwa sejumlah kejadian tampaknya disajikan berdasarkan urutan kronologis yang ketat untuk menyampaikan pesan-pesan teologis.
5.    Kitab Kebijaksanaan
Kitab ini khusus berbicara tentang pembalasan sebagai hukuman bagi penyembahan berhala. Berbeda dengan kitab hikmat/kebijaksanaan lainnya, kitab ini memberikan perhatiannya pada sejarah keselamatan orang bijak dan kepedulian Allah terhadap orang benar. Kitab ini juga ingin memberikan keyakinan kepada jemaat Yahudi di Mesir bahwa memelihara iman nilainya sangat besar sekalipun ada banyak kesukaran yang ditemukan.
6.    Kitab Putera Sirakh
Merupakan suatu karya yang berisikan ajaran-ajaran etika dari sekitar tahun 180-175 SM. Penulisnya, Yesus bin Sirakh, adalah seorang Yahudi yang tinggal di Yerusalem, yang kemungkinan mendirikan aliran sendiri dan menulis karyanya di Aleksandria.
Karyanya ditulis dalam bahasa Ibrani, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani oleh cucunya (yang tidak diketahui namanya) di Mesir, yang menambahkan bagian prolog atau pengantarnya. Prolog tersebut umumnya dianggap sebagai saksi yang paling awal akan adanya sebuah kanon dari kitab-kitab para nabi. Kitab ini sendiri merupakan kitab hikmat atau kebijaksanaan terbesar yang terlestarikan dari zaman kuno.
7.    Kitab Baruch.
suatu pemaparan untuk menentang penyembahan berhala. Selama masa Diaspora, orang-orang Yahudi meratapi kejatuhan mereka dalam penyembahan berhala, dan penyesalan mereka dicatat dalam Kitab Barukh.

Kebenarannya gimana ya?
Kebenaran Kitab Lama yang telah dihilangkan atau justru Kitab Baru yang ditambahkan?
Sebagai anak muda Katolik kita harus tahu dan mengenal kitab Deuterokanonika. Kitab yang telah lama menjadi debat perbincangan antara Gereja Katolik dan Gereja Protestan. Dimana mereka mendebatkan kebenaran dan keabsahan Kitab tersebut. Tapi satu hal yang jelas bahwa Kitab Deuterokanonika merupakan salah satu bagian kitab yang diakui oleh Gereja Katolik. Deuterokanonika merupakan istilah yang dipakai setelah abad ke 16, yang artinya adalah yang termasuk dalam kanon kedua. Istilah ini dipakai untuk membedakan dengan kitab-kitab Perjanjian Lama lainnya yang diterima oleh Gereja Protestan. Sembilan kitab yang ada di Deuterokanonika disebut kitab Apokrit (Kitab yang tidak sah karena ada pertentangan di dalamnya) oleh Gereja Protestan namun berbeda dengan Gereja Katolik yang menerimanya sebagai kitab yang mengandung kebenaran iman.
Dengan berpegang pada Tradisi Para Rasul, Magisterium Gereja Katolik memasukkan kitab Deuterokanonika dalam kanon Kitab Suci, seperti yang telah ditetapkan oleh Paus Damasus I (382) dan kemudian oleh Konsili Hippo (393) dan Konsili Carthago (397). Kita percaya mereka diinspirasi oleh Roh Kudus untuk menentukan keotentikan kitab-kitab ini, berdasarkan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya.
Kitab Deuterokanonika merupakan satu kesatuan dengan Kitab Perjanjian Lama. Dalam edisi Vulgate (Kitab Suci yang ditulis berdasarkan Septuaginta, yaitu yang memuat Kitab Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani pada tahun 250-125 BC).
Kitab Deuterokanonika termasuk di dalamnya, inilah yang dipakai oleh Gereja Katolik sampai sekarang. Di dalam Alkitab Katolik versi Bahasa Inggris, memang kitab Deuterokanonika disatukan dalam Perjanjian Lama. Jika di versi bahasa Indonesia dipisahkan, itu kemungkinan karena pertimbangan kemudahan percetakan, dengan menggunakan dasar versi yang sudah ada dan diterima secara umum dan diterima oleh semua umat Kristen di Indonesia.
Di atas semuanya itu, Kitab Suci yang dipergunakan oleh Yesus dan para rasul itu adalah kitab suci Septuaginta, yang ditulis antara abad 3-2 sebelum Masehi, dan kitab Septuaginta tersebut memuat kitab-kitab Deuterokanonika. Gereja Katolik dalam menentukan kanon, tidak berdasarkan pemahaman pribadi melainkan dari bukti tertulis dari pengajaran para rasul dan Bapa Gereja, yang telah memasukkan kitab- kitab tersebut dalam tulisan mereka. Jadi yang benar adalah Gereja Katolik tidak pernah menambah-nambah Kitab Suci, sebab memang dari sejak awal ditetapkan sudah demikian.
Nah, oleh karena itu, teman-teman jangan malas ya baca alkitab ya, Terima kasih sudah membaca artikel ini.
Penulis dan penyunting : Kevin
Sumber
•    https://gapurawahyu.wordpress.com/2013/12/13/perbedaan-kitab-suci-katolik-dan-kitab-suci-kristen-protestan/
•    http://rcmagz.com/kebenaran-kitab-deuterokanonika/
•    https://id.wikipedia.org/wiki/Kitab_Yudit
•    https://id.wikipedia.org/wiki/Kitab_Tobit
•    https://id.wikipedia.org/wiki/Kitab_1_Makabe
•    https://id.wikipedia.org/wiki/Kitab_2_Makabe
•    https://id.wikipedia.org/wiki/Kitab_Kebijaksanaan_Salomo
•    https://id.wikipedia.org/wiki/Kitab_Yesus_bin_Sirakh
•    https://id.wikipedia.org/wiki/Kitab_Barukh