Wake Up

Wake Up

Shalom teman-teman, kali ini kita akan membahas mengenai iman. Masih ingat bacaan injil minggu lalu? “… Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja…” (Luk 17:6). Kalau teman-teman gak tahu apa itu biji sesawi, coba deh browsing… itu biji yang kecil sekali. (bukan biji sawi yah!) beberapa bacaan pun menceritakan banyak orang disembuhkan oleh Yesus karena Yesus melihat iman mereka. (Luk 5:20, Luk 7:9, Luk 7:50, Luk 8:48, Luk 17:19, Luk 18:42) bacaan-bacaan tersebut mau membuktikan kalau Tuhan melihat iman dari orang-orang yang meminta bantuan kepadaNya. Artinya iman itu penting! Tetapi apakah cukup hanya dengan iman sebesar biji sesawi? Ada loh bacaan tentang kisah penabur (Mat 13). Pastinya kita mau iman kita seperti benih yang ditaburkan di tanah yang baik sehingga iman itu bertumbuh dan berbuah sangat banyak sampai berkali-kali lipat. Nah pertumbuhan secara rohani tuh kayak gimana sih?

Pertumbuhan adalah suatu proses, yang akan berakhir pada saat seseorang mencapai tujuan. Dalam kehidupan rohani, pertumbuhan adalah suatu proses untuk menjalani kehidupan rohani untuk mencapai tujuan, yaitu persekutuan dengan Allah.

Mengapa harus bertumbuh?

Setiap orang mungkin pernah mencoba untuk berlari di atas mesin lari atau treadmill. Hidup kita di dunia ini adalah seperti treadmill, yang berjalan terus dan tidak berhenti. Sayangnya hidup di dunia ini cenderung berjalan berlawanan arah dengan nilai-nilai kekristenan. Inilah sebabnya rasul Yohanes mengingatkan kita, “15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. 16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia” (1 Yoh 2:15-16). Untuk dapat bertahan di dalam hiruk pikuk dunia ini yang menawarkan berbagai kenikmatan daging, kesenangan mata dan keangkuhan hidup, kita perlu berlari melawan arus tersebut yang semakin kencang. Ini berarti di dalam kehidupan rohani, kita harus memperbaharui kehidupan rohani kita dan terus bertumbuh, sehingga kita mempunyai kekuatan untuk berlari tanpa henti sampai ke tempat tujuan, yaitu persatuan dengan Tuhan selamanya di Sorga (lih. 1 Kor 9:24). Oleh karena itu, untuk terus hidup sesuai dengan perintah Tuhan,pertumbuhan bukanlah suatu pilihan, namun suatu keharusan. Sebagaimana kita akan jatuh kalau kita diam pada mesin treadmill, demikianlah, kitapun akan jatuh kalau kita tidak bertumbuh secara rohani di tengah-tengah kehidupan ini – yang berlawan dengan nilai-nilai kekristenan. Jika ini terjadi maka akibatnya sungguh fatal: yaitu kehilangan keselamatan kekal.

Cara untuk bertumbuh

Setelah kita melihat bahwa pertumbuhan dan pembaharuan rohani adalah suatu karunia dari Allah, maka untuk bertumbuh, kita harus bergantung pada rahmat Allah dan segala sesuatu yang membuat rahmat Allah dapat mengalir di dalam kehidupan kita. Hal-hal yang membuat kita dapat bertumbuh secara rohani adalah: 1) Kitab Suci, 2) doa, 3) sakramen-sakramen, 4) Gereja, 5) belajar. Mari sekarang kita melihat satu-persatu tentang kelima hal ini.

  1. Kitab Suci

Kitab Suci adalah Sabda Allah sendiri yang dinyatakan dalam bahasa manusia. Di dalamnya, kita mengetahui rencana keselamatan Allah, kasih Allah, keadilan Allah, hubungan antara manusia dan Allah dan bagaimana untuk hidup sesuai dengan rencana Allah. Begitu pentingnya membaca Kitab Suci dalam kehidupan  rohani kita, sehingga St. Jerome/ Hieronimus mengatakan, “For ignorance of Scripture is ignorance of Christ“- terjemahannya: “Sebab pengabaian terhadap Kitab Suci adalah pengabaian terhadap Kristus”.

Oleh karena itu, Gereja telah menentukan dibacakannya secara garis besar keseluruhan Kitab Suci kepada umatnya dalam penanggalan liturgi yang berlaku dari tahun ke tahun. Gereja Katolik mempunyai kalendar liturgi yang terdiri dari tahun A, B, C untuk bacaan Mingguan; dan juga tahun I dan II, untuk bacaan harian. Kalau kita setia mengikuti bacaan Misa hari Minggu dan bacaan harian, maka dalam tiga tahun, kita seharusnya telah membaca hampir seluruh isi Kitab Suci secara garis besar. Begitu inginnya Gereja untuk mendukung umatnya untuk membaca Kitab Suci secara teratur, sampai Gereja memberikan indulgensi kepada orang yang membaca dan merenungkan Sabda Tuhan selama setengah jam setiap hari.

  1. Doa

Doa adalah nafas dari kehidupan rohani kita. Sama seperti kita tidak dapat hidup tanpa nafas, maka tanpa doa, kita tidak mungkin dapat bertumbuh. Doa seharusnya menjadi suatu cara untuk hidup kudus. Namun, lebih dari sekedar cara, doa sesungguhnya adalah suatu tujuan, karena di dalam doa kita mengambil bagian dalam kehidupan Tuhan. Kalau Sorga adalah persatuan abadi dengan Tuhan, maka doa adalah suatu pandangan ke Sorga. Tidaklah heran, kalau St. Teresia Kanak-kanak Yesus mengatakan, “Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke Surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan

  1. Sakramen-sakramen

Memang ada berbagai cara untuk menerima rahmat Tuhan, namun sakramen adalah cara yang diberikan oleh Kristus lewat Gereja-Nya, agar rahmat Tuhan mengalir kepada umat-Nya. Katekismus Gereja Katolik mengatakan bahwa sakramen-sakramen Gereja merupakan tanda yang kelihatan dari rahasia/ misteri Kristus -yang tak kelihatan- yang bekerja di dalam Gereja-Nya oleh kuasa Roh Kudus, sehingga misteri Kristus dapat dihadirkan kembali saat ini dan memberikan buah- buahnya.

  1. Gereja

Kalau ketujuh sakramen yang kita kenal mengungkapkan misteri Kristus dan memberikan rahmat sesuai dengan karakter dan tujuan dari sakramen tersebut, maka Gereja adalah misteri terbesar dari Kristus sendiri, sehingga Gereja menjadi sakramen keselamatan, yang menjadi tanda rahmat Allah dan sarana yang mempersatukan Allah dan manusia. Kita sebagai umat Katolik sudah seharusnya bersyukur bahwa kita dipersatukan oleh Tuhan di dalam Gereja-Nya, yang mempunyai empat tanda: satu, kudus, katolik dan apostolik. Di dalam persekutuan Gereja inilah kita bersama-sama bertumbuh untuk memperoleh keselamatan. Bahkan St. Jerome (Hieronimus), St. Thomas Aquinas, St. Petrus Kanisius, St. Robert Bellarminus mengatakan bahwa Gereja adalah seperti perahu Nabi Nuh, di mana di dalamnya, orang mendapatkan keselamatan. Di dalam perahu keselamatan inilah seharusnya kita semua yang termasuk di dalamnya mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Pada waktu kita lemah, kita dapat menimba kekuatan dari komunitas- komunitas gerejawi, namun sebaliknya kita dapat memberi bantuan kepada yang lemah (lih Gal 6:2).

Gereja yang menjadi pilar dan dasar kebenaran (lih 1 Tim 3:15), merupakan tempat bagi kita untuk bertumbuh dalam kebenaran dan kasih. Kepenuhan kebenaran di dalam Gereja yang dinyatakan lewat doktrin dan dogma, membebaskan kita, karena kebenaran memerdekakan kita (lih. Yoh 8:32). Doktrin dan dogma seharusnya bukan dipandang sebagai suatu hal yang membatasi kebebasan kita, namun seharusnya menjadi pegangan bagi kita untuk bertumbuh dalam kekudusan. Kita juga harus bersyukur atas anugerah para gembala kawanan umat Allah yaitu Paus, para uskup, para imam, sebab Roh Kudus bekerja melalui mereka. Melalui merekalah, maka persatuan umat Allah dapat terjaga dan konsistensi doktrin dan dogma dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi dengan murni.

  1. Belajar

Hal lain yang harus dilakukan untuk bertumbuh adalah belajar. Sama seperti seseorang yang ingin menjadi seorang arsitek, yang harus belajar begitu banyak hal, seperti matematika, mekanika teknik, menggambar, dan lain lain. Kalau di dalam kehidupan sehari-hari seseorang yang ingin mengetahui sesuatu harus belajar dan mencari, demikian juga dengan kehidupan rohani kita. Kita dapat belajar begitu banyak dari kakak kelas kita – yaitu para kudus, dari diktat/catatan kuliah – yaitu doktrin dan dogma, dari kuliah kerja nyata – yaitu hidup kudus, dari Yesus, Maria, dan seluruh jajaran para kudus.

Akhir kata, yang harus kita lakukan adalah tetap berusaha terus bertumbuh secara rohani. Kemunduran kehidupan rohani akan membahayakan keselamatan kita karena dapat membuat kita terseret dalam arus dunia ini, yang berlawanan dengan nilai-nilai kekristenan. Tidak ada cara lain untuk bertumbuh secara rohani kecuali dengan terus berjuang setiap hari. Mari kita mengingat apa yang dikatakan oleh rasul Paulus “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Fil 3:13-14).

Maka mari, janganlah takut untuk bertumbuh; dan jangan takut untuk hidup kudus. Sebab jika surga-lah tujuan kita, maka kita tidak mempunyai jalan lain untuk menuju ke sana, selain berjuang untuk hidup lebih kudus hari lepas hari, tentu dengan bantuan rahmat Tuhan.

Thank You…

 

Sumber : http://www.katolisitas.org/bertumbuh-dan-memperbaharui-diri-secara-spiritual/